Minggu, 22 Mei 2011

sudahkah kita menjadi gurunya manusia?

kemarin, bersama teman teman kompleks (oh ya...ibu ibu kompleks saya memang keren) kami mengikuti launching buku pak Munif Chatib : Gurunya Manusia.

apa yang hebat dari buku ini? apa yang menggerakkan dari pak Munif Chatib?

terus terang saya baru separuh baca bukunya, dan kemarin launchingnya pun belum sempat bertanya. namun entah bagaimana ya...ada saat saat ketika semangat, passion, keikhlasan seseorang itu begitu terasa. terasa hingga ke hati, terasa hingga bisa menyemangati orang lain. itulah rasanya mendengar beliau bicara dan menulis dalam bukunya.

buku ini dibuka dengan kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk puisi, saya cuplikkan dua baris teratas, selebihnya baca sendiri yaaaa:

sekolah itu bukan warung
sekolah itu institusi sumber daya manusia tingkat tinggi
butuh orang orang yang punya komitmen dan kompetensi untuk membangunnya
ketika hakikat belajar dikembalikan kepada hakikat manusia
tidak semua orang bisa menerimanya
banyak orang menganggap mustahil

namun, kami punya keyakinan
bahwa belajar itu harus manusiawi
belajar itu harus menyelam ke kondisi siswanya
seperti sepak terjang para nabi mengajar umatnya
penuh tantangan untuk berhasil

saya sebenarnya miris dengan kalimat sekolah bukan warung...tapi saya tertawa juga membacanya. tertawa kecut...karena emang begitu sekolah bukan warung. pendidikan itu juga bukan masalah sepele yang bisa dijual jual...

dua pembedah buku ini Yudhistira A Masardi dan Haidar Bagir menyampaikan fakta pahit pendidikan Indonesia yang membuat saya berkata ke diri sendiri: oh ya...hingga pendidikan Indonesia membaik saya akan bergerak bersama anak anak dari lini homeschool. berjuang dari sisi ini. dengan doa teriring bagi guru guru dan sekolah yang serius menjadi sekolah dan gurunya manusia.
saya memantapkan diri.

sungguh mulia Gerakan Indonesia Mengajar yang mengakomodir guru guru menuju seluruh pelosok Indonesia.
sungguh mulia para guru yang semangat menjadi pembelajar dan bersedia belajar dari muridnya, bersedia menjadi fasilitator bagi mereka.
sungguh mulia orang orang yang bekerjasama membuat taman bacaan bagi masyarakat.
sungguh mulia para relawan yang terjun mendampingi anak anak jalanan.
dan banyak sosok mulia lainnya....
kita memang memiliki jalan juang masing masing.
mari memilih jalan juang itu. sesuai panggilan jiwa...kesesuaian kemampuan..sekuat tenaga.
lalu kita akan menjadi batu bata penyusun peradaban yang lebih baik

lanjut tentang buku ini.
buku ini membuat saya berfikir...sudahkah saya profesional menjadi ibu?
jika dulu menjadi guru siang malam pagi sore melakukan siklus merencanakan, mengajar, belajar, evaluasi...apakah setelah berhenti dari pekerjaan itu dan menjadi ibu siklus itu tetap berjalan?
atau hilang?
sudahkah saya memanusiakan anak saya?
memahami cara berfikirnya, karakternya, dan selalu menatapnya sebagai juara ...tanpa syarat?
apakah saya sudah mencintai mereka setulus jiwa?
apakah saya sudah cukup belajar dan beraal..dan berahlak baik hingga pantas menjadi teladan?
ah....jauhnya dari hal hal indah itu...
namun inilah proses kami belajar bersama.
semoga Allah memudahkan.

didalam buku ini banyak hal hal yang amat jelas dan terang untuk diterapkan, contoh lesson plan, penjadwalan, cara agar mencapai  gelombang alfa, skema yang memudahkan mempelajari tentang accelerated learning dan banyak lagi. subhanallah.

mmmm...sebentar ini jad bagian pertama tulisan tentang buku Gurunya Manusia ya...anak anak sudah bangun...

Minggu, 08 Mei 2011

oh...gitu ya bun cara bikin kentang goreng?

dirumah...didapur yang kecil dan nyempil iniah anak anak sering "nongkrongin" bundanya..ngapain aja mereka??

karena pagi ada ritual belanja bersama..(saya sengaja belanja diluar kompleks supaya anak anak keluar dan mengenal tetangga, bisa belanja dtempat yang bervariasi, juga jalan jalan...mengenal tanam tanaman, mengamati orang lewat, mengenal peraturan berjalan dijalan kampung...) mereka biasanya sudah tahu apa saja isi kantung belanja bunda yang berbentuk strawbery kalau dilipat (menghemat tas kresek!).

rafid suka telur, udang, brokoli, wortel, tempe,  sosis, bakso, jamur goreng tepung, segala yang goreng tepung (uhuk uhuk uhuk...sebaiknya dikurangi ya ini)...dan.... anti bawang yang tidak diulek..sayur...alhamdulillah sudah suka dan mau makan daun katuk..bayam ("tapi kalo diorak arik ama telur itu aku sukanya bun"), tapi kangkung dan buncis belum mau sampai sekarang.
*saat hamil rafid bayam adalah sayur wajib. tempe saya sukaa sekali dan bi**uat coklat..ooooh tak tau kenapa..setiap hari harus makan...apa itu sebabnya dig motona jadi suka singa?

hamza suka jeruk, mangga, pisang, jambu, semangka, pepaya, apel...(kalau dituruti setiap hari sepanjang waktu dia hanya akan makan buah...) mi, spaghetti, pasta, ikan, dan segala yang segar segarrrrrr....
*saat hamilnya aduuuuh sori sori ama bayam dan brokoli...liatnya aja pengen emesis* gayaaaa emesis...bilang aja m***ah. dan kepinginnya malah makan makanan yang harusnya dijauhi seperti mi instan yang haruuuum baunya..apalagi yang dibelikan tengah malam diwarung sunda 24 jam, kan romantish itu...bisa ada cerita agak seru dan penuh pengorbanan seorang suami tararara ra rat rat rat...(kok terbayang rambo sih yah..), terus pingin sayur daun ketelanya warung padang saja..

jadi..setelah melihat belanjaan, biasanya mereka sudah siap membantu (mengacak acak eh mengeluarkan dari kantung, memotong, mengupas, mencacah). mengupas tempe bungkus itu favorit hamza, mengupas bawang putih juga, kalau kakak rafid sudah sampai ke tahap koki cilik haha dia sudah pernah membuat orak arik wortel yang dimakan sampai habisssss tanpa protes, menggoreng tempe, tapi tolong tak usah tanya bentuk atau rasanya ya...(iya iya genetis dari saya mungkin) tapi yang penting usahaaa!

dan yang paling menyenangkan itu kalau mereka menggotong kursi dan dingklik untuk menatap kompor. tapi itu juga yang paling menyulitkan karena jadi penuuuh daerah penggorengan. semoga hati bunda selalu dilapangkan.
paling kalau saya "usir" mereka akan nempel dijendela dapur dari ruang makan lalu menanyakan tahap tahap memasak saya (menanyakan atau meragukan hahaha)
"habis ini diapain bun?"
"oooh gitu ya bun...diiris dulu kecil kecil?"
"eh kak! kak! liat menteganya mengalirrrr (maksudnya mencair)"
"aku gak mau makan yang itu nanti bund"
"meluap bunda sudah meluap!! (maksudnya mendidih)"

ahhhh mungkin saat saat seperti itu yang akan bunda rindukan besok saat kalian telah dewasa...pergi berkelana...merantau ....(hik hik..hik...hik...berkahilah hidup mereka  ya Allah)

Sabtu, 07 Mei 2011

kenapa bunda cereweet sekali?

mmm kenapa ya?

padahal sudah tau lho...kalau kata "jangan!" itu tidak baik untuk anak anak

padahal sudah tau lho...kalau anak sedang sulit makan koreksi diri dulu, apakah makanannya membosankan? apakah jadwal makan cemilan terlalu dekat hingga masih kenyang?

paahal sudah tau lho..kalau anak banyak bertanya...melakukan hal hal baru (termasuk memakan segala dengan kuah air putih...mojok makan odol..memasukkan plastik ke colokan lampu...naik naik pintu..membasahi ruas kaki dengan air liur ...) .itu bukan berarti dia nakal..dengan sengaja mengetes kesabaran . tapi ia belajar sesuatu...

padahal sudah tau lho..kalau senyum dan mendengar itu lebih work out dibanding cemberut dan bicara panjang kali lebar kali tinggi..

padahal sudah pernah baca dan dengar hdits Rasulullah : jangan marah..bagimu syurga...

padahal sudah diingatkan ustadz Faudzil Adzim...ustdzh Irawati Istadi...dan banyak orangtua baik lainnya...orangtua itu perlu berdekat dekat dengan Allahnya..agar punya kata kata yang kuat dan bermakna...

oh...nak...maafkanlah bunda jika masih begitu sulit mendengar dan mudah marah...
maafkan bunda jika masih sulit memilih kata yag berefek baik bagi jiwa...

mudahkan ya Allah..

Entri Populer